“Kemerdekaan Telekomunikasi”

“Kemerdekaan telekomunikasi harus bisa dirasakan secara merata oleh seluruh warga negara republik ini. Hanya tergantung dari niat baik dan kemauan yang kuat dari pemerintah, operator selular, dan semua pihak yang terkait dalam pelayanan jasa telekomunikasi. Bahwa telekomunikasi adalah bukan semata-mata komersial mencari untung belaka. Tetapi, lebih dari itu, telekomunikasi adalah sebuah pelayanan. Dan pelayanan adalah hak setiap warga negara Indonesia.”
– Tole dalam postingannya tentang proses meng ON AIR kan Intan Jaya, Papua.  Baca di sini 🙂

Make Better Use Of Pinterest With These 5 Pinterest Tools

Whether you’ve already fallen for Pinterest or not, no one can deny the new network’s popularity. Instead of sharing your thoughts or actions, you get to share beautiful images. Not only that, those images don’t have to be hand made, only hand picked – all you have to do is find them on the Web, and you’re all set.

As with many other geeks, I decided one night that it was high time I gave Pinterest a try. One thing led to another, and I found myself on a search for ways to make pinning quicker and easier, at the end of which I had quite a collection of interesting Pinterest tools with which I could make even better use of Pinterest.

via Make Better Use Of Pinterest With These 5 Pinterest Tools.

Instagram for Android :))

image

Tadi malam dirilis juga akhirnya Instagram buat Android. Sadis, cuman dalam waktu sehari aja udah langsung berapa puluh ribu tuh yang ngedonlod di Google Play ckckck.

Btw gambar yang ditaro di postingan ini melalui filtering sampe dua kali. Vignette dan Instagram. Wkwkwk. Yess, orang awam pun sekarang bisa mengabadikan moment dengan makin dramatis ^^

Dan bersiaplah di twitter mungkin bakalan semakin banjir hestek insta macem-macem ini. Dan foodgasm. Dan foto-foto unyu sampe foto gak jelas. Dan foto ntahapa-apa. Dan gak boleh protes karena itu suka-suka akun yang bersangkutan (berlindung di bawah undang-undang kebebasan berekspresi) xp

Oiya mungkin ini juga saatnya kembali cek n ricek aplikasi-aplikasi instagram wannabe yang pernah didonlod. Hahahaha.

Posted from WordPress for Android

… seriously?

“For decades movies like Terminator have been teasing us with glimpses of a future where augmented reality is ubiquitous. (Augmented reality, or AR, is when simulated imagery is superimposed over physical surroundings – like when the cyborg assassin sees a human, and the words “non-combatant” appear over the guy, so said cyborg knows not to toast him.) Various smartphones have started offering clunky AR apps that show you things like restaurant reviews when you point your camera at a store’s facade. But with all the crazy technology already on today’s market, we’re saying that’s not enough!

The following are 6 awesome AR gadgets we think need to come out ASAP: “

via 6 Augmented Reality Gadgets We Want NOW | The Scordit Blog.

Haha!

Hiks

Setelah lama tak digunakan, nomor operator kuning yang dulu cukup lama saya gunakan akhirnya tewas. Hiks.

085720349***

Kalau nomor ini ada di phone book teman-teman, berarti udah bisa dihapus 🙂

Nomornya mati gara-gara udah berbulan-bulan gak diisi. Soalnya hapenya rusak. Huhu.

Selamat jalan nomor yang kubeli di kios pulsa Sukabirus. Kau telah membantu perkuliahanku, titip absen hingga Tugas Akhir, menyambung silaturahmi, dsb. Akan selalu kukenang wahai SIM Card ke 4 ku. Muach.

“The World’s Most Simple Phone”

Lucu juga nih buat jadi yang kedua… atau ketiga.. Haha.

*

Silakan baca juga reviewnya di sini.

Sayang sekali, saya agak kecewa pas liat harganya. Bisa dibilang itu lumayan mahal untuk sebuah ponsel yang fungsinya sangat basic.

Huff…

 

Tapi lucuuukkkk hihihi :p

 

*Credit picture: http://bloggerlens.com/the-worlds-most-simple-mobile-phone/

 

Iseng

Hahahaha. Iseng-iseng tadi main youtube dan nemu beginian.

Mungkin gak terlalu detail. Kalo mau belajar lebih dalam tinggal beli buku aja atau ambil kuliah di Teknik Telekomunikasi. Hahaha. Tapi lumayanlah ini untuk review singkat buat jaga-jaga wkwkwk 😀

Keren juga channel si Rohit Academy ini :p

Ngomongin Teknologi (lagi)

Sehabis silaturahmi ke kamar Kak Septi dan dikasi tau tentang tulisannya Christian Sugiono ini.

Hmm. Saya tertegun lama, karena hal-hal kayak gini juga pernah saya pikirkan dan tulis di sini.

Hahaha. Sepertinya banyak juga orang-orang yang mendambakan hal kayak gini. Mari kita tunggu saat itu tiba. Dimana internet mati dan orang-orang juga jenuh sama kemajuan teknologi. Mengingat manusia ini merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain secara real, maka besar harapan saya bahwa suatu saat hal ini bisa terjadi. Enggg.. minimal buat saya pribadi.

🙂

You know what drives me crazy? It’s all these people talking about how great technology is, and how it saves all this time. But, what good is saved time, if nobody uses it? If it just turns into more busy work. You never hear somebody say, “With the time I’ve saved by using my word processor, I’m gonna go to a Zen monastery and hang out”. I mean, you never hear that.-Jesse, Before Sunrise

Teknologi: Apa Kabar 10 Tahun Mendatang?

Seperti yang saya sudah pernah singgung sebelumnya, berada di kampus IT seharusnya menjadikan saya sedikit lumayan ngerti tentang teknologi yang ada, terutama di bidang Telekomunikasi.

Lama-kelamaan, saya makin pusing. Nurani mulai tergelitik. Hati mulai terusik. Apa sih ini yang selama ini saya pelajari????

Dan setelah tadi ngobrol-ngobrol sama senior saya, yah bisa dibilang obrolan warkop, kita berdua (dan mungkin banyak lagi yang lainnya), ngerasa ngeri dengan perkembangan yang ada dan bakalan ada.

Nah. Jadi, semua orang yang belajar teknologi komunikasi pasti pada taulah, kalo dunia saat ini sedang menuju era 4G. Lalu apa efeknya?

Menurut senior saya yang kerjanya ngedrive test itu sih, kalo udah 4G ntar optimasi bakal dikerjain sama smart antena yang sesuai namanya, smart, bisa ngontrol dirinya sendiri. Sedangkan kalo 3G, mesti dibutuhin orang-orang yang jago optimasi, yang ngecek-ngecek frekuensi, pancaran antena, dll. Jadi tadinya antena itu bego, lalu perlu ahli. Kemudian besok-besok bakal dibikin antena yang pinter, jadi gak perlu butuh orang banyak lagi buat optimasi, cukup satu doang yang bisa ngontrol banyak antena dari satu tempat. Mungkin kira-kira begitu ya.

SEE?

Ini juga yang bikin saya sedih dan agak sedikit menyesal ambil kuliah jurusan ini. Bukannya sok peduli atau gimana ya. Udah materi kuliahnya susah bener, gak terlalu minat, eh berkemungkinan bisa bikin angka pengangguran meningkat.

Karena inti kuliah IT itu adalah MEMUDAHKAN SISTEM. Itu yang saya tangkap. Seperti yang dianalogikan si senior saya itu, kalo dulu di kereta api dibutuhkan penjual karcis, masinis, dll, maka sekarang cukup dengan bikin sistem yang bisa bikin kereta api ngeluarin karcis sendiri, jalan sendiri, ntar dia berhenti sendiri, dan manusia diperlukan cuma untuk cleaning service dan membuat sistem kayak gitu.

Belum lagi dengan calon TA saya, yang rencananya mau bikin sistem yang bisa identifikasi batuan dari gambarnya. Kalo itu TA jadi dan dikembangkan sama orang-orang ahli, bisa-bisa teman-teman geologi kehilangan lahan garapannya dong. Saya gak mau banget itu terjadi.

Apalagi di Next Generation Network nanti, dimana sentral-sentral telepon yang ada bakal diganti dengan router yang pinter, sehingga gak dibutuhin banyak pekerja lagi. Cukup satu mungkin bisa untuk ngontrol beberapa routing.

Bisa dibilang dalam beberapa tahun mendatang, posisi manusia kalo nggak di ataaaas banget (tukang bikin+ngerancang sistem), ya di bawaaaaah banget (tukang bersih-bersih). Dan tidak ada lagi posisi menengah.

Sedih gak?

Saya sih sedih banget. Dan saya baru sadar akan semua hal ini udah lumayan telat, ketika mulai kenal konspirasi, yahudi, new world order, dan the arrivals. Ketika tau kalo teknologi ini bagaikan permainan yang dikontrol sama orang-orang pinter sesuka hatinya. Bahkan mengubah lifestyle kita.

Bayangkan.
Mungkin pada zamannya anak saya nanti, gak ada lagi yang namanya jalan-jalan keluar, gak ada lagi yang namanya main ke rumah temen, berangkat sekolah, dateng kondangan, main karet, main gundu di luar sampe kotor-kotoran…

Semuanya udah dikerjain sama sistem. Semuanya serba digital. Mungkin juga udah banyak content dan layanan yang disediakan. Kalo mau sekolah, cukup via internet (ini malah udah ada). Ketemu temen, cukup dari social networking (shit!), dateng kondangan?? cukup kirim hologramnya. Liat aja deh sekarang, cuma berapa persen anak Indonesia yang masih main patok lele? Galasin? Congklak? Ludo? Halma? Gundu?

Bahkan ludo, halma, dan game-game manual lainnya udah banyak yang dijadikan game digital. Semuanya beralih ke Xbox, Nintendo, PlayStation. Benci sekali saya sama kenyataan yang ini.

Ah,
Saat itu mungkin jarak semakin tak berarti.
Dan kita mungkin akan semakin tidak peduli.

Tapi masih besar harapan saya, mengingat manusia punya titik jenuh. Dan saya ngarep semoga titik jenuh manusia akan teknologi ini segera muncul. Masa dimana orang-orang jenuh sama facebook (ini udah mulai), twitter, BB nya yang tiap bentar ngingetin kerjaan atau updatean (alah!), masa dimana orang-orang malessss berhadapan dengan layar monitor.

Tiba-tiba semua orang ingin BREAK dan merindukan masa lalu.
Tiba-tiba semua orang pengen nostalgia kirim surat cinta pake Pos dan bukan email dan bukan juga SMS.
Tiba-tiba semua orang lebih senang silaturahmi, bertamu, mengunjungi kerabatnya di rumah dan tidak sekedar menyapa di Facebook.
Tiba-tiba semua orang muak dengn push email dan mencampakkan gadget-gadgetnya.
Tiba-tiba semua orang berkumpul di warung kopi dan BERCENGKRAMA, dan bukan sibuk sendiri dengan laptopnya (lalu buka facebook atau malah chatting dengan orang lain, sementara temen di sebelahnya dicuekin karena punya kesibukan yang sama)
Tiba-tiba anak-anak mulai bosan dengan joystick gamenya dan lebih senang main petak umpet di luar sampe keringetan, sampe sore, sampe mereka pulang ke rumah setelah dipanggil ibunya

:’)

Tiba-tiba semua orang merasa kangen. Kangen yang benar-benar kangen karena lama tak berjumpa, lama tak bercerita.

Di masa itu, jarak yang lebih terasa, akan membuat kita lebih menyayangi dan merindukan orang lain. Juga lebih menghargai kehadirannya dalam hidup kita sebagai bagian, dan bukan cuma pelengkap.

Saya sangat berharap masa itu tiba…
Ketika teknologi berfungsi sesuai kodratnya..

Saya yakin Samuel Morse dan Alexander Graham Bell menciptakan alat telekomunikasi, pasti untuk menjadikan yang jauh menjadi dekat, bukan sebaliknya.