Parenting 101 :p

Setelah liat2 kesana kemari, dengerin cerita orang2, nonton acara2 TV serta berita, sepertinya bisa disimpulkan..

Bahwasanya yang dibutuhkan oleh (calon) anak2 kita (kelak) hanyalah panutan yang baik dan nyata: orang tuanya.

Katanya gak ada orang tua yang sempurna. Tapi meskipun begitu, tetep aja para ortu harus belajar setiap saat utk menjadi lebih baik…

Sebagaimana ortu menginginkan anak2nya soleh dan solehah, anak2nya pun sebenernya menginginkan hal yg sama (okehsip).

Mungkin itu juga yang dibutuhkan negara ini kali ya (eaakk). Di samping mikirin urusan yang besar2, cobalah benerin yang terdekat dulu. Dari keluarga sendiri misalnya. Ngutip Aa Gym (kalo gak salah), “Mulailah kebaikan dari diri sendiri, dari yg terkecil, dan dari yang terdekat.”

Hahaha menjadi ortu rupanya tidak mudah. Dan gak ada tamat2nya selama hayat dikandung badan 🙂

image

😉

Parenting 101 :p

Belahan Jiwa

“Kita tahu telah menemukan belahan jiwa ketika tiba-tiba menangis saat teringat hidup manusia tidak kekal.” (@MarissaAnita)

Belahan Jiwa

Double Entendre

“What is the difference between ignorance and apathy?” would be “I don’t know and I don’t care”.

via Double entendre – Wikipedia, the free encyclopedia.

Double Entendre

Rembulan Tenggelam di Wajahmu oleh Tere Liye

Ketika membeli novel ini, yang saya harapkan adalah cerita yang sefenomenal Hafalan Sholat Delisha. Saya gak pernah baca sih, tapi teman-teman pas kuliah dulu sering membicarakan HSD. Katanya ceritanya bagus dan sediiiiiih bgt.

Novel ini sebenarnya menarik. Diambil dari angle yang unik. Tokoh utamanya, Rey, sedang koma. Dan dalam ketidaksadarannya itu dia dibawa ke moment tertentu hidupnya. Masa-masa yang tragis. Menyakitkan. Seakan-akan kehidupan ini memusuhinya. Cobaan terus saja datang. Membuat ia mempertanyakan banyak hal. Terutama takdir. Bahkan terkadang seperti protes.

Jikalau Rey punya akun twitter, mungkin dia udah ngetwit begini: “Kenapa harus begini amat sih hidup gue?”

Sayangnya enggak sih ya. Tapi emang memprihatinkan. Saya yang baca aja kasian.

Yang keren dari ceritanya, si Tere Liye bisa dengan apik menuangkan gagasannya soal takdir. Jalan hidup manusia. Bahwasanya apa yang terjadi pada kita tidak ada yang percuma. Selalu ada alasan. Dan betapa hal-hal kecil sekalipun, itu bisa memberikan efek besar pada orang lain. Cuma kitanya aja yang gak pernah tau.

Jadi ingat film The Adjustment Bureau.

Satu aja kalo buat saya kurangnya. Dan ini subjektif haha. Soal gaya tulisan Tere Liye ini. Overdramatic? Gak tau juga deh. Soalnya dia sering mengulang-ulang kalimat yang sama. Itu sengaja atau nggak, yang jelas bikin sayajenuh. Dan karena dia laki-laki, tadinya saya berharap membaca tulisan yang lugas gitu, to the point, gak menye2.

Ya itu soal selera aja kok. Banyak juga yang ngefans sama tulisan-tulisannya. Dan karena ini juga baru satu-satunya buku dia yang saya baca, tentu saja penilaian saya tadi gak valid.

But overall, buku ini keren. Bikin tertarik untuk melihat perspektif lain dari kehidupan 😉

Layak baca. Tapi layak beli gak ya?? Hehehe :p

Posted from WordPress for Android

Rembulan Tenggelam di Wajahmu oleh Tere Liye

“Be the Best of Whatever You Are”

by Douglas Malloch

If you can’t be a pine o the sop of the hill,
Be a scrub in the valley – but be
The little scrub by the side of the hill; 
Be a bush if you can’t be a tree 

If you can’t be a bush be a bit of the grass 
And some highway happier make 
If you can’t be a muskie then just be a bass 
But the leveliest bass in the lake

We can’t all be captains, we’ve got to be crew 
There’s something for all of us here
There’s big work to do, and there’s lesser to do 
And the task you must do is the near

If you can’t be a highway the just be a trail
If you can’t be the sun, be a star
It isn’t by size you win or you fail 
Be the best of whatever you are 

Puisi yang sempat rame.

“Be the Best of Whatever You Are”

“Dalam Doaku”

oleh Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak “Hujan Bulan Juni”

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

 

🙂

“Dalam Doaku”