Some People are like Trees :p

“Some people are meant to come into your life for a lifetime, some for only a season and you got to know which is which. And you’re always messing up when you mix those seasonal people up with lifetime expectations.

I put everybody that comes into my life in the category of a tree. Some people are like leaves on a tree. When the wind blows, they’re over there… wind blow that way they over here… they’re unstable. When the seasons change they wither and die, they’re gone. That’s alright. Most people are like that, they’re not there to do anything but take from the tree and give shade every now and then. That’s all they can do. But don’t get mad at people like that, that’s who they are. That’s all they were put on this earth to be. A leaf.

Some people are like a branch on that tree. You have to be careful with those branches too, cause they’ll fool you. They’ll make you think they’re a good friend and they’re real strong but the minute you step out there on them, they’ll break and leave you high and dry.

But if you find 2 or 3 people in your life that’s like the roots at the bottom of that tree you are blessed. Those are the kind of people that aren’t going nowhere. They aren’t worried about being seen, nobody has to know that they know you, they don’t have to know what they’re doing for you but if those roots weren’t there, that tree couldn’t live.

A tree could have a hundred million branches but it only takes a few roots down at the bottom to make sure that tree gets everything it needs. When you get some roots, hold on to them but the rest of it… just let it go. Let folks go.”

-Madea Goes to Jail

Some People are like Trees :p

Primal Fear (1996)

image

“Why gamble with money when you can gamble with people’s lives? That was a joke. All right, I’ll tell you. I believe in the notion that people are innocent until proven guilty. I believe in that notion because I choose to believe in the basic goodness of people. I choose to believe that not all crimes are committed by bad people. And I try to understand that some very, very good people do some very bad things.”

Film ini berkisah tentang Martin Veil (Richard Gere), seorang pengacara terkenal dan agak songong karena seringkali memenangkan kasus di pengadilan, yang tau-tau mengajukan diri untuk menjadi pengacara Aaron (Edward Norton), anak muda yang menjadi tersangka pembunuhan seorang pendeta.

Martin Veil ini niat bangetlah ngebelain si Aaron yang menurutnya gak bersalah. Karena Aaron, setelah dikenalinya, ternyata memiliki kepribadian ganda atau alter ego atau gangguan jiwa gitu. Jadi seharusnya Aaron bisa mendapatkan keringanan hukuman atas perbuatannya itu.

Berkat kepiawaian Martin, berhasilah dia menolong Aaron di meja hijau.

Nah, tetapi kemenangan tsb pada akhirnya gak bikin dia bangga dong. Malah ngerasa kayak dipecundangi kali ya *sotoy. Mengapa oh mengapa? Karena eh karena….di situlah letak twist nya. Silakan ditonton sendiri biar ikutan kesal hahaha.

Ngemengin soal akting om Richard dan Mas Edward, sama-sama taulah ya sapa beliau-beliau tersebut. Yang jelas di film ini, dimana Mas Ed masih tampak muda belia, udah ketauan bgt jagonya haha. Bisaan lah dia sih ya.

Pokoknya film lawas ini seru dan menarik keseluruhannya. Ibarat Law n Order versi niat. Haha.

Primal Fear (1996)

FYI

“The more you know who you are and what you want, the less you let things upset you.”  –Lost in Translation (2003)

Posted from WordPress for Android

FYI

5cm.*

Film ini udah jadi wishlist tontonan dari awal tahun soalnya saya suka sekali sama novelnya :p

Novelnya ini bisa dibilang salah satu bacaan favorit saya di masa-masa labil, galau, gundah, dan gelisah ala bocah SMA yang sedang bingung mau kuliah kemana, bingung nanti kuliah gimana, dan baca buku ini waktu itu pas aja gitu momentnya haha. Penuh inspirasi dan motivasi. Yuk :))

Dan ketika bukunya mau dibikin film ya besar sekali dong napsu utk menontonnya. Penasaran gimana si novel ini divisualisasikan haha. Akankah se-okem novelnya?

Ternyata WOW sekali yah. Pas nonton film ini mata bener-bener dimanjain. Kuping juga. Pemerannya juga pas, kecuali pemeran Genta dan Zafran deh. Soalnya yang kebayang selama ini Genta itu agak gedean gitu badannya terus bersahaja. Sedangkan Fedi Nuril ini agak imut2. Agak kurang graorr. Begitu juga Junot. Padahal Zafran dalam benak saya adalah sosok yang nyeni, kucel, berantakan, tapi ganteng hahaha. Si Junot malah putih bersih rapih dan caem gitu ya gak sih..

Ya sudahlah mungkin pengharapan saya aja yang keterlaluan 😀

Ceritanya menarik walaupun agak standar. Tentang persahabata anak2 geng yang mulai bosen sama gengnya terus naik gunung dan jreng jreng keluarlah jiwa nasionalisnya. Bagian naik gunungnya sih spektakuler. Soalnya pemandangannya menakjubkan sampe-sampe saya gak peduli lagi sama ceritanya wkwkwk. Btw saya penasaran sama skinny jeans atau jegging nya Riani yang bisa dipake buat naik gunung tertinggi di pulau Jawa xixixi.

Dalam novelnya saya suka sekali kalimat-kalimat puitis nasionalis bombastis soal impian, cita-cita, harapan, bla bla bla.. sampe saya tempelin di agenda SMA dulu. Tapi pas diucapkan kalimat macem itu kenapa kedengeran palsu ya?

Zzzz aja gitu :p

Sama kayak pas nonton film Perahu Kertas. Dialog-dialog cantik itu mungkin bakalan manis kalo berupa tulisan aja kali ya? Pas diucapkan berasa gombal dan dangdut.

Ah, mungkin perasaan sayanya aja :p

Lalu ostnya yang ngisi Nidji. Huft. Kebayang iklan sepeda motor Kak jadinya. Kok Nidji sih Kak? Saya dulu suka sama Nidji…sampe suatu hari muncul lagunya yang mirip cangadh sm lagunya The Strokes wkwkwk.

Soalnya nih ya di novelnya itu betebaran lagu dan lirik dari musisi yang cihuy lagi ciamik. Dari Radiohead sampe Elly Kasim. Saya sampe ikutan suka Kasih nya Elly Kasim gara-gara si 5cm ini loh.

Tapi kan pembenarannya, kalo buku difilmin pasti gak bisa sama. Jadi saya ikhlas dan tetep enjoy nontonnya walau ada kegenggesan di sana sini. Nikmatin pemandangan yang indah. Yang bikin saya terobsesi punya heli biar bisa nyampe puncak Semeru dan singgah di hot spotnya yang oke2 itu wkwkwk. Udah gak kuat kayaknya naik gunung, kebayang ribet pipisnya kekeke.

*Typical movie review dari pembaca novel yang novelnya dibikin film.

Posted from WordPress for Android

5cm.*

Seeking a Friend for the End of the World (2012)

Look, you don’t need to spend the Iast few days of your Iife with a totaI stranger.

You’re not a totaI stranger,
and these aren’t my Iast days.

Oh, you’re a survivaIist.

No, I’m not a survivaIist.
I’m an optimist.

What would you do if you know that world’s gonna end on the next 3 weeks?

Steve Carell lagi-lagi berakting menjadi pria yang menyedihkan hehe. Kali ini, ketika bumi diprediksi hanya akan berusia 3 minggu karena akan kejatuhan asteroid bernama Matilda, Dodge (Steve Carell), malah ditinggal begitu aja sama isterinya. Kasiaaaaan 😦

It onIy took Armageddon to give her the courage.
Which is ironic, because being afraid of dying aIone is why I got married in the first pIace.”

Lalu di tengah-tengah kegalauan yang dia rasakan, munculah Penny (Keira Knightley) secara gak sengaja di balkon apartemennya sambil nangis-nangis. Tau-tau mereka berpelukan aja gitu bak teletubbies (gak pernah ngerti sama orang bule ini ya gampang akrab bener sama stranger lol). Penny sedih karena dia ketinggalan pesawat yang seharusnya membawa dia pulang ke rumah. Mulailah mereka yang sebenernya bertetangga ini, bercengkerama, curhat, ngobrol, dan dari ngalor ngidul itu ketauanlah bahwa isterinya si Dodge ini punya selingkuhan. Penny juga ngasihin beberapa surat yang salah kirim alamat kepada Dodge.

Dan di antara kiriman salah alamat itu, ada surat dari Olivia. Cinta lamanya Dodge.

Sementara di luar sana mulai terjadi huru-hara. Mau gak mau mereka harus pergi bawa mobil apa aja yang ada di parkiran. Dodge bilang, he knows a guy with plane. Jadi mungkin bisa bawa Penny pulang ke rumahnya. Dan dimulailah perjalanan mereka.

Dalam perjalanan itu Penny baru tau kalo surat untuk Dodge yang nyasar ke dia udah berbulan-bulan itu, surat dari Olivia. Penny ngerasa bersalah telah membuat Dodge… galau? Hahaha. Akhirnya mereka memutuskan untuk nyari rumah Olivia.

Sempat pula mereka mampir di Friendsy’s, sebuah restoran atau cafe kali ya. Tempat makan yang aneh. Akibat nyimeng di sana,  mereka !@#@%@$%@^ di mobil, kena tilang, dan pake masuk penjara pulak. Tapi itu gak menghentikan pencarian mereka akan cinta (asik) hahaha. Perjalanan masih lanjut.

Hingga akhirnya mereka sampai di rumahnya Olivia. Tapi entah kenapa Dodge cuma meninggalkan surat dan gak mau menemui Olivia, sehingga membuat Penny (dan penonton)  keheranan.

“Because I don’t want it to change anything. You have somewhere you need to be.”

Perjalanan berlanjut. Mereka makin asyik aja berdua dan sepertinya mulai saling tertarik satu sama lain. Hingga tibalah mereka di sebuah rumah. Yang ternyata rumah bapake Dodge.

And you know what is the sweetest part of this movie?

Adalah ketika a guy with a plane itu ternyata bapake Dodge! Ketika Penny masih tertidur pulas (btw dia mengidap hypersomnia), dia diangkut sama Dodge ke pesawat yang akan membawanya pulang ke rumah. Adegan yang mengharukan. Sayang pesawatnya ini cuman muat dua penumpang sepertinya, jadi Dodge gak bisa ikut. Cedih 😥

. . . .

Terus gimana?

“Kiamat” udah tinggal hitungan hari. Apakah Dodge akan tetap dying alone in this cruel cruel world?

Silakan nonton lengkap filmnya biar postingan ini gak spoiler-spoiler amat 😀

Film ini cute, romantic, and sweet in its kinda weird way. Sehabis nonton film ini, serasa dihantui sama pertanyaan,

“What are you doing with the rest of your life?”

Rotten Tomatoes
IMDb

Seeking a Friend for the End of the World (2012)