Idul Adha

Selamat Hari Raya Idul Adha.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, melewati hari raya kurban ini jauh dari ortu. Dan masih belum ikut kurban. Kenapa cobak?!

Karena gak ngeh kalo udah waktunya pesan-pesan kurban hiks. Gak nyadar kalo udah mau Idul Adha. Akibatnya seminggu sebelum hari H nya baru nyari ya udah pada tutup. “Basi lo!!”, kata kambing-kambing.

Kalo kata Papa, “Terlalu sibuk ya sama urusan dunia..”

JederšŸ˜¦

Sad but true. Keseringan nih kayak begini. Dunia, engkau hanya persinggahan tapi kenapa begitu menarik dan melenakan? Semakin hari sepertinya makin seksi aja deh kamu, oh Dunia…

Btw tadi sholat deket kosan dan khatibnya bersemangat. Isi ceramahnya seputar naik Haji:

-kalo bisaĀ  berhajilah selagi masih muda. Karena ibadah haji ini pake fisik juga.
-mampu itu relatif. Yang penting niat.
-salah kaprah mengira orang yang udah menunaikan Haji bakalan ma’sum alias suci dr dosa. Yang namanya manusia pasti gak luput dari kesalahan meskipun udah Haji atau belum. Tapi dengan menyadari bahwa dirinya udah Haji, seenggaknya itu bisa jadi pengingat ketika akan berbuat salah.
-banyak yang menyalahgunakan urusan naik haji ini. Entah petugasnya ataupun calonya. Ada yang ketipu saat kurban di tanah suci sana, aturannya kurban buat berapa org malah jadinya berapa. Sebaiknya kita saksikan sendiri pelaksanaan kurban tsb.
-baru tau ada program naik Haji ngutang dulu ke Bank. Emg jeli ya dasar..
-baru tau juga kalo unta itu hewan yang paling pasrah ketika akan disembelih. Merendahkan dan menundukkan dirinya. Huaaa aku cedih membayangkannya. Subhanallah sekali yah..

Sekarang aku jadi pengen pelihara unta haha. Nggak deng. Tapi ini dramatis sekali ya kalo dipikir-pikir. Luar biasa sekali Nabi-Nabi Allah itu. Semuanya dikasi ujian yang spektakuler. Dan mereka semua kuat menjalaninya. Dan tetep aja patuh. Ikhlas sepenuh hati menjalankan kehidupan HANYA KARENA ALLAH dan untuk beribadah kepada Allah. Gak banyak cincong dan protes macam-macam ke Allah. Gak kepikiran untuk menggugat takdir dan Allah padahal itu kan menggalaukan sekali.

Nabi Ibrahim mencintai anaknya, namun rasa sayangnya itu gak membuatnya lalai pada perintah Allah. Begitu juga Nabi Ismail. Beliau masih muda padahal waktu itu. Tapi udah ngerti dan takwa, sehingga ikhlas juga mengikuti perintah Allah dan mendukung Ayahnya. Huaaa mengharukan.

Bayangkan kalo kejadian di kita. “Kak, Papa dpt perintah untuk menyembilih kakak..”

“Apa??! Papa udah gak sayang sama kakak?”

Malah jadi FTV.

Maha Suci Allah yang memang sudah berjanji hanya akan memberikan ujian sesuai batas kemampuan manusia. Memberikan amanat hanya kepada orang-orang yang tepat. Pantesan dikatakan bahwa cobaan dan ujian itu menaikkan derajat kalo kita ikhlas menjalaninya.

Kalau dibandingkan cobaan yang dihadapi Nabi-Nabi dulu, aku jadi merasa cupu karena gampang galau stress, depresi, dan ngamuk-ngamuk ketika punya persoalan kecil aja. Haha.

Ini PR besar.

Posted from WordPress for Android

Idul Adha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s