Etalase by Sore

Sebuah tembang lawas dipersembahkan untuk seluruh komponen penyusun kehidupanku 😉

Semua sahabat yang pernah menghangatkan hidup
Satu persatu, menghilang…
Seiring waktu yang makin lama
Kian menua

Tapi kita coba kenangi semua,
Walau telah tiada
Bagai etalase jendela…

🙂

Rembulan Tenggelam di Wajahmu oleh Tere Liye

Ketika membeli novel ini, yang saya harapkan adalah cerita yang sefenomenal Hafalan Sholat Delisha. Saya gak pernah baca sih, tapi teman-teman pas kuliah dulu sering membicarakan HSD. Katanya ceritanya bagus dan sediiiiiih bgt.

Novel ini sebenarnya menarik. Diambil dari angle yang unik. Tokoh utamanya, Rey, sedang koma. Dan dalam ketidaksadarannya itu dia dibawa ke moment tertentu hidupnya. Masa-masa yang tragis. Menyakitkan. Seakan-akan kehidupan ini memusuhinya. Cobaan terus saja datang. Membuat ia mempertanyakan banyak hal. Terutama takdir. Bahkan terkadang seperti protes.

Jikalau Rey punya akun twitter, mungkin dia udah ngetwit begini: “Kenapa harus begini amat sih hidup gue?”

Sayangnya enggak sih ya. Tapi emang memprihatinkan. Saya yang baca aja kasian.

Yang keren dari ceritanya, si Tere Liye bisa dengan apik menuangkan gagasannya soal takdir. Jalan hidup manusia. Bahwasanya apa yang terjadi pada kita tidak ada yang percuma. Selalu ada alasan. Dan betapa hal-hal kecil sekalipun, itu bisa memberikan efek besar pada orang lain. Cuma kitanya aja yang gak pernah tau.

Jadi ingat film The Adjustment Bureau.

Satu aja kalo buat saya kurangnya. Dan ini subjektif haha. Soal gaya tulisan Tere Liye ini. Overdramatic? Gak tau juga deh. Soalnya dia sering mengulang-ulang kalimat yang sama. Itu sengaja atau nggak, yang jelas bikin sayajenuh. Dan karena dia laki-laki, tadinya saya berharap membaca tulisan yang lugas gitu, to the point, gak menye2.

Ya itu soal selera aja kok. Banyak juga yang ngefans sama tulisan-tulisannya. Dan karena ini juga baru satu-satunya buku dia yang saya baca, tentu saja penilaian saya tadi gak valid.

But overall, buku ini keren. Bikin tertarik untuk melihat perspektif lain dari kehidupan 😉

Layak baca. Tapi layak beli gak ya?? Hehehe :p

Posted from WordPress for Android

“Be the Best of Whatever You Are”

by Douglas Malloch

If you can’t be a pine o the sop of the hill,
Be a scrub in the valley – but be
The little scrub by the side of the hill; 
Be a bush if you can’t be a tree 

If you can’t be a bush be a bit of the grass 
And some highway happier make 
If you can’t be a muskie then just be a bass 
But the leveliest bass in the lake

We can’t all be captains, we’ve got to be crew 
There’s something for all of us here
There’s big work to do, and there’s lesser to do 
And the task you must do is the near

If you can’t be a highway the just be a trail
If you can’t be the sun, be a star
It isn’t by size you win or you fail 
Be the best of whatever you are 

Puisi yang sempat rame.

“Dalam Doaku”

oleh Sapardi Joko Damono, 1989, kumpulan sajak “Hujan Bulan Juni”

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

 

🙂

Justice and Vengeance

“I don’t care about the law. I care about justice, and justice says machado deserves to suffer.”

“That’s not justice. It’s vengeance.”

“What’s the difference?”

 

Jane and Lisbon, The Mentalist.

“Happiness Happens When No One Expects It”

Love is a mangled, tangled, upside-down version of everything wrong with the world.
It’s a multicolored poster hanging on some white wall where all the bad things go.
No one can see it in a knowing sense, but we all know we want it in the present tense.

Love is a nice kid from a mean street.
It’s a supervillain sunset with the hint of a good streak.
A child on their first bike knows exactly what it feels like.
An old twig that sold its soul to the leaves doesn’t.

Love is a good thing on a bad day, when the last thing you want is to be cheered up.
But who am I kidding?… we all need cheering up once in a while when we wake up
and the good Earth won’t smile.

Poems are under Copyright, Chad Sugg Publishing. 2009

source

Life is Like a Cup of Coffee – Spiritual Story / Parable by Unknown

Spiritual Story by Unknown

A group of alumni, highly established in their careers, got together to visit their old university professor. Conversation soon turned into complaints about stress in work and life.

Offering his guests coffee, the professor went to the kitchen and returned with a large pot of coffee and an assortment of cups – porcelain, plastic, glass, crystal, some plain looking, some expensive, some exquisite – telling them to help themselves to the coffee.

When all the students had a cup of coffee in hand, the professor said: “If you noticed, all the nice looking expensive cups have been taken up, leaving behind the plain and cheap ones. While it is normal for you to want only the best for yourselves, that is the source of your problems and stress.

Be assured that the cup itself adds no quality to the coffee. In most cases it is just more expensive and in some cases even hides what we drink. What all of you really wanted was coffee, not the cup, but you consciously went for the best cups… And then you began eyeing each other’s cups.

Now consider this: Life is the coffee; the jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain Life, and the type of cup we have does not define, nor change the quality of life we live.

Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee. Savor the coffee, not the cups! The happiest people don’t have the best of everything. They just make the best of everything. Live simply. Love generously. Care deeply. Speak kindly.

via Life is Like a Cup of Coffee – Spiritual Story / Parable by Unknown.