Mrs. Retno H.P

Selamat ya, Retno Hening Palupi.

Alhamdulillah hari ini udah sempurna setengah agama. Tinggal dijalanin. Mudah-mudahan kau bisa jadi isteri yang solehah dan ibu yang baik buat anak-anak kau. Hihi.

image

Huaaa perasaan kita masih SMP x) !! Ini gak mungkin kan. Kita kan masih sekolah dan lagi suka-sukanya baca Lupus, ya kan? Dan belum paham kenapa cewek-cewek suka dikasi bunga hwahahaha..

Kita masih 15 kaaaaannnnn??!!!! Kau masih suka Erros dan aku suka Sakti?!!
*gak terima kenyataan*
*ditampar realita*

Huahahah…

Love youuuuuu ‚ô•
Mwach!

Posted from WordPress for Android

Malesin

Lagi-lagi kembali lagi ke teori satu ini.

Karena emang kita gak punya kontrol atas isi kepala orang, gimana dia memandang kita, mengkategorikan dan mengkotak-kotakkan kita, dan yang dia tau standarisasi dia udah yang paling benar dan akurat.

Maka yang bisa kita lakukan cuma stay on the right way, tetep kalem, dan do the best.

Habisnya mau gimanapun juga, mau jungkir balik, mau sekeras apapun usaha kita, mau sevokal apapun pembelaan kita, tapi kalo ybs ngotot dengan asumsinya, ya udah, gak bakalan dia peduli. Dan kalo udah gitu, kita sendiri juga yang capek dan makan ati.

Lagipula bukan urusan kita juga sih. Sepanjang gak mengganggu dan menghalangi langkah kita.

Kayak quote yang suka beredar itu,
Kita cuma bertanggung jawab sama ucapan dan tindakan kita. Soal gimana orang menganggapnya dan mengasumsikannya, ya urusan dia.

Hadeuh capek mah kalo mau bikin hepi semua pihak ya ^^

Posted from WordPress for Android

Bacaan yang Bikin Galau

Tadi membaca ringkasan Ihya Ulumuddin oleh Imam Al Ghazali punya kakek dan di situ terang sekali dijelaskan segala sesuatu mengenai syariat dalam beribadah. Mulai dari pentingnya ilmu agama, kewajiban untuk mencarinya, gimana tata cara bersuci (thaharah), bahwasanya bersuci itu pun gak bisa disepelein karena membersihkan lahiriah adalah langkah awal untuk menyucikan hati, dan gimana detailnya melaksanakan sholat yang benar. Udah puluhan tahun kali ya tau sholat, udah sering juga dilaksanakan, tapi ketika sholat itu belum bisa menampakkan hasil berupa akhlak yang baik dan mulia, artinya masih ada yang keliru. Masih ada yang perlu dibenerin. Masih ada yang harus digali lagi…

Dan ini makin dibaca, makin bikin ngerasa kalo pengetahuan agama masih nol dan cetek.

Ada juga deskripsi gimana Rasulullah dulu sabar dan dermawan, tapi juga tangguh dan pemberani, ah bikin minder asli. Hmmmh jadi kepengeeen dipimpin sama sosok yang kayak gitu jugak, yang jagoan ngebimbing dan tau banyak. Aakkk.

Buku ini bener-bener bikin galau. In a good way.

Posted from WordPress for Android

Syukur itu…

“…menerima yang sedikit tapi menganggapnya banyak dan memberi banyak tapi menganggapnya sedikit.” kalo gak dalah denger tadi gitu kata Pak Quraish Shihab ^^

Posted from WordPress for Android

24 ;)

Bwahaha kali ini ngelewatin 17.08.2012 di jalan lintas Pekanbaru – Duri. Mantap kalilah.

Eh tapi jam segitu juga belum lahir deng. Aturan 24 nya itu malam jam 8an ini.

Hmm.

Senangnya lagi ultah gini dan berada di rumah. Dan alhamdulillah juga karena sampe sekarang udah dikasi banyak anugerah dan karunia oleh Allah. Mudah-mudahan umur yang dititipkan ini berkah dan bermanfaat buat semuanya.

Bersyukur sekali rasanya atas kehidupan yang udah dijalani denganjatuh bangun (dangdut haha). Masih dikelilingi orang-orang tersayang, keluarga, pacar, teman-teman :’)

Mudah-mudahan hari-hari selanjutnya bisa terlewati dengan lebih apik dan asik. Tujuan bisa tercapai. Ikhlas ngejalanin apapun yang dikerjain. Makin sayang dan peduli sama sekitar. Dst.

Dah ah..

HBD, Self!

Kita

Seakan akan kita berjauhan
Padahal dekat
Mungkin akulah yang menaruh jarak
Pelan pelan beranjak

Menghilang dan tersesat dalam pijakan yang lain

Jakarta, 14 Agustus 2012

Posted from WordPress for Android

“AKULAH SI TELAGA”

AKULAH SI TELAGA

Oleh :

Sapardi Djoko Damono

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;

berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;

berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;

sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja

— perahumu biar aku yang menjaganya

Perahu Kertas,

Kumpulan Sajak,

1982.