Dear Diary

image

Hahaha. Sabtu pagi gak ada kerjaan, akhirnya malah bongkar-bongkar barang jadul satu ini.

Diary. Mungkin hampir semua cewek dalam hidupnya pernah punya diary. Tapi kayaknya gak semuanya yang bertahan dan betah rutin mengisi dan menulisinya. Mungkin karena diary itu bersifat satu arah, ya. Jadi kalo mau curhat dan cerita di diary tentang masalah yang lagi dihadapi, jangan berharap ada feedback. Haha.

Pertama kali kenal diary, gara-gara Mama. Waktu masih kecil dulu Mama punya diary di laci meja riasnya, dan dalam keadaan terkunci. Kertasnya warna-warni. Sering saya minta kertasnya buat coret-coret.

Setelah saya bisa membaca, kayaknya pas SD, saya mulai iseng nyari-nyari kunci diary Mama. Begitu dapat, saya baca. Tapi berhubung masih bocah, belum paham apa-apa, saya cuma tertarik sama tulisan di beberapa halaman terakhir diary itu.

“Anakku Augustia Muliawati.”

Lalu diikuti dengan informasi berat badan, panjang, proses operasi caesar, dan lainnya mengenai kelahiran dan masa balita saya.

Dan di halaman terakhir ada coretan Mama tentang belanja bulanan. Harga ikan, sayur, beras, dll.
Btw saya suka nanya ke Mama tentang perbandingan harga jaman dulu dan sekarang.

Lama-lama, saya kalo iseng masih suka baca lagi diary Mama itu. Dan akhirnya mulai ngerti sama isinya. Ketika Mama kenal sama Papa, terus pacaran jarak jauh juga, terus Mama diajak ke pantai pekan baru (alias sungai Siak), puisi Mama tentang cinta-cintaan gitu, dilamar Papa, dan kira-kira dalam setahun hubungan langsung memutuskan untuk menikah.

Manisnya ♥

Mama sukses membuat anaknya jadi kepengen punya Diary juga hahaha. Dan di ultah saya yang ke 10 (kelas 4 SD) saya dikasi Diary sama Mama. Senang sekaliiii.

Mulai saat itu ngisi Diary pun jadi kebutuhan. Isinya khas tentang kehidupan anak SD yang masalahnya (kalo diliat sekarang sih sepele. Padahal dulu itu “sesuatu bgt”). Sayangnya Diary itu hilang. Dan saya sempat malas nulis diary gara-gara dibaca Mama huakaka.

Yang (ternyata) masih ada adalah Diary SMP saya. Itu yang gambar di atas. Saya baca lagi tadi halaman per halaman. Rasanya seperti kebawa ke masa lalu. Masa SMP yang indah, lucu, dan mengasyikkan. Yang paling bikin pusing waktu itu cuma persoalan UHB (Ulangan Harian Bulanan). Ah, betapa polosnya kita di masa itu hahaha.

Masalah anak SMP (baca: saya) jaman dulu adalah soal persahabatan. Tentang berteman dan dicampakkan teman. Tentang naksir sama teman yang tadinya sangat menyebalkan (Dan entah kenapa selalu aja duduknya berdekatan. Lama-lama jadi suka. Sukanya sampe kuliah. Ups, jadi curhat. Hahaha). Dan tentang pertengkaran sama adek sendiri hahaha.

Lalu konflik yang terjadi antara kita dan teman adalah karena kita suka boyband yang berbeda. Saya suka BSB dan kamu suka Westlife. Terus saya jelek-jelekin Westlife dan kamu tersinggung, lalu membenci saya. Tapi besoknya kita main lagi. Hahaha.

Pernah juga ada masa-masa naksir kakak kelas dan kegeeran gara-gara disenyumin. Ada hari tertentu yang bikin bahagia karena di hari itu ruang kelas sama kecengan bersebelahan. Suka sholat zuhur di Sport Hall (sholatnya dulu diabsen) dan senang ketika liat kecengan beresin tikar belas sholatnya haha.

Ah, betapa banyak hal-hal kecil lainnya yang bikin masa sekolah begitu indah. Oya. Ada juga becandaan macam ini:

X: Eh, Y. Si A suka sama kau..
Y: Hah sukak bapak kau?! Jangan gosip kau ya…

“Sukak bapak kau” itu kira-kira sama artinya kayak “Sukak dari Hongkong”.

Ahahaha. Dan dulu kita biasa aja pas becanda sama teman lalu bilang “Hahahaha anjing lah kau.” atau gak “Babilah..”

Ntahapa-apa ya emang🙂

Diary ini fungsinya udah kayak mesin waktu. Saya bisa liat lagi gimana saya jaman dulu. Gimana perkembangan emosi (tsah gaya) dari waktu ke waktu. Saya bandingin gimana saya jaman dulu ngadepin masalah, lalu apa yang dulu saya pikirkan sampe ngambil sebuah keputusan.  Menarik juga kalo diperhatikan proses kita tumbuh dan berkembang. Dan lihat sekarang. Berbeda sekali.

Yang gak berubah cuma satu nama yang lama sekali hinggap di kepala. Nama yang ada terus di diary SMP sampe kuliah. Sumber kegalauan. Dan baru hilang 5 tahun lalu hahaha. Ups. Curhat lagi :p

Sekarang saya makin jarang isi Diary. Kecuali ada masalah yang bener-bener bikin pusing dan kalo diceritain ke orang bikin orangnya  ikutan pusing. Dan itu juga kalo lagi gak males. Beda sama dulu, ketika naik bus ke sekolah aja bikin bete, saya tulis di Diary. Huekekek.

Dear Diary

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s