“S” for the System!

Sistem.

Apa sih sistem? Yang saya tau, dalam kuliah di semester muda dulu, yaitu kuliah Sinyal dan Sistem, diajarin kalo Sistem itu merupakan pemroses sebuah masukan sehingga bisa dihasilkan keluaran. Kalo dalam bidang saya, yang diproses di sini adalah suatu sinyal masukan. Jadi si sinyal masukan ini melalui sebuah sistem, lalu diproses, kemudian dihasilkan deh jadi sebuah sinyal keluaran yang bisa jadi beda, bisa juga sama, tergantung sistemnya seperti apa.

Bisa dilihat di sini, begitu pentingnya suatu Sistem sampe-sampe bisa bikin perubahan bagi masukan.

Lalu saya analogikan (dengan sotoynya) sinyal dan sistem ini dengan kehidupan dan kenyataan yang ada.

Pernah saya nonton berita tentang seorang skater muda Indonesia yang berprestasi di luar negeri, tapi di dalam negeri sendiri dia malah kurang tersohor. Dia bilang kalo dia cinta Indonesia, tapi benci sama sistem yang ada.

Wew. Lagi-lagi sistem. Memang sistem yang ada dan udah mengakar ini agak-agak busuk. Mau mulai darimana ngemenginnya, saya juga bingung. Karena bagaikan lingkaran setan, gak tau mana yang pangkal, mana yang ujung. Dan seringkali sistem-sistem yang gak oke ini memproses kita-kita manusia (alias inputan) menjadi outputan yang gak keren lagi. Alias minus.

Liat aja. Sistem birokrasi yang masih gak lepas dari KKN, memaksa seorang mahasiswa menyuap bagian administrasi kampusnya. Sistem pendidikan yang gak dilaksanain dengan bener, memaksa seorang guru menjadi pecundang karena membiarkan siswa yang lagi UN mencontek. Dan banyak lagi.

Kenapa mesti terjadi kayak gitu?

Ya kalo saya pikir, itu karena kita semua terjebak dalam sistem ini dan gak mau mengeluarkan diri. Kita terlanjur ikut arus massa.

Bisa dibilang cacat dimana-mana.

Sistem pendidikan, sistem ekonomi, hukum, politik, dan lain-lain.

Pasti bikin emosi deh kalo dibahas. Semalem aja saya berargumen lamaa sama si pacar gara-gara ngobrolin soal biaya kuliah yang mahal. Bingung, mesti salahin siapa. Bingung lagi mikir solusinya gimana. Masa mau pinter mesti tajir? Mengingat biaya kuliah jaman sekarang untuk kita-kita yang gak mampu ngejar beasiswa ini terhitung tinggi bagaikan bintang di langit. Sulit untuk digapai.

Belum lagi sistem ekonomi yang carut marut. Males juga ya ngomonginnya secara tiap hari muncul terus di TV. Bu Sri Mulyani sampe eksis berat gitu. Hehehehe.

Dan di tengah-tengah kekecewaan saya sama sistem ini dan sistem itu, nyasarlah saya di halaman facebook Tante saya, dan nemuin link ini .

Mark Boyle, yang udah tiga tahun hidup tanpa uang.

Damn cool! Kalo kata si Azam temen saya, istilahnya ni orang nekat keluar dari sistem. Menjadi kaum minoritas. Melawan mainstream yang ada.

Setelah saya pikirkan, semua akar permasalahan adalah uang. Uang yang menyebabkan terputusnya hubungan kita dan langkah kita. Setelah itu, saya memutuskan bereksperimen hidup tanpa uang,” -Mark Boyle

Hahahaha. Apakah sudah tiba waktunya kita kembali ke titik nol?

Liat lagi link dari Guardian ini.

Wow. Mudah-mudahan life style kayak gini cepet ngetrend😀

Selain si Mark Boyle ini, ada lagi si tante yang juga nekat keluar dari sistem. Dengan berani, si Rachel Muston ini nekat gak make kulkas lagi karena ngerusak lingkungan, Bisa dibaca di sini.

Ckckck.

Inspirasional sekali. Kapan ya saya bisa jadi orang yang berani kayak mereka? Hidup bebas, benar-benar ngerasa bebas tanpa takut (kecuali sama Allah), dan hidup dengan damai dan tentram tanpa ada yang mesti dikhawatirkan. Dan yang paling penting, jadi solusi bagi permasalahan yang ada.

Seringkali saya ngerasa cemas sama masa depan saya kayak gimana. Tapi si Mark Boyle ini bikin saya berpikir, betapa pentingnya kita menikmati hari ini, menjalani dengan sepenuh hati, total, tanpa mesti dirusak dengan ketakutan-ketakutan akan hari esok. Toh hari esok belum tentu kita miliki.

Ah, memang sistem itu begitu sakral.

Mari kita selamatkan diri kita sendiri dengan mengikuti sistem yang bener-bener udah terjamin kebaikannya. Yaitu sistem yang diberikan oleh Tuhan. Dan sebisa mungkin segera bersahabat kembali dengan alam. Back to nature.

“S” for the System!

2 thoughts on ““S” for the System!

  1. …..saya akui, memang sulit untuk keluar dari mainstream. Entah kenapa, mungkin udah tertanam d otak kita, ‘kalo melawan arus itu nanti jadi aneh’. Butuh keberanian.
    Tapi, untuk kembali ke alam, saya rasa wajib. Ga boleh ada rasa takut. Mungkin…….. hanya was-was.🙂 Was-was karena ‘nanti dibilang orang lain aneh’ ato ‘ndeso, gak modern’. Memang harus berani.

    1. tyamerdeka says:

      Iya. Bumi makin tua. Tapi manusia makin sadis. Lama-lama bumi bisa ngamuk kalo kita gak berbaik hati sama dia dan memusnahkan peradaban yg udh dibangun dengan bencana.

      Kalo soal mainstream itu dia..udh kayak lingkaran setan. mau gak mau kita mesti terlibat di dalamny, kecuali punya keberanian utk keluar meskipun bukan berarti menentang.

      Tapi sulit kyknya ya, contoh kecilnya aja gw masi suka nyontek tugas punya temen demi dapetin nilai bagus. Alesannya kenapa? karena punya nilai yg bagus itu udah jadi standar kualitas yg dibentuk sama sistem yang udah lama ada. jadinya kalo nilai gak bagus berarti ke laut aja. Padahal kualitas kan gak cuma bisa diliat dari angka2 di atas kertas😀
      (makin malem makin ngelantur ni omongan hehehe)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s