Obrolan Petang

Maghrib baru saja mau beranjak mendekati malam. Tiba-tiba HP saya bunyi, ada panggilan rupanya dari Mama.

Seperti biasa, obrolan dua arah khas ibu-anak pun mengalir. Cerita macem-macem. Mulai dari tetangga sebelah yang anaknya mau masuk kuliah bentar lagi, seputar sekolah adek-adek saya (yang dulunya juga sekolah saya), seputar kebiasaan main adek saya yang hobi keluyuran dan ninggalin mama sendiri di rumah (secara si Papa kerja malam), seputar suasana rumah (betapa Mama sangat suka sama kain Bali yang diculik dari lemari saya😀 ), seputar keluh kesah saya yang disebabkan oleh makhluk dua huruf berbobot 2+4 sks, yang selalu ditimpali mama kayak gini:

“Alah itu aja dipikirin. Serahkan aja semuanya kepada Allah, mudah-mudahan dikasi kelancaran. Gak usah terlalu dipikirkan. Dengan mengingat Allah insyaAllah dibantuin. Makanya rajin-rajin beribadah, ingat terus sama Allah dalam kondisi apapun. (Yah kurang lebih gitu deh, saya gak inget juga identiknya gimana.)

Dan saya dengan lemahnya cuma bilang,
“Iya, Ma?”
Ckckck. Ada apa ini? Apakah saya mulai ragu?
Sejujurnya sih merasa kurang pantas gitu berharap banyak sama Sang Khalik. Ya ampun, saya bener-bener harus perbaiki ibadah ni kayaknya😦

Tapi Mama, dengan penuh keyakinan menjawab, “Iyalah, kak. InsyaAllah. Makanya rajin-rajin beribadah, sholat malam, dzikir, do’a.”
Dan tak lama kemudian Mama pun bercerita tentang sekelumit kejadian yang beliau alami beberapa hari ini. Lagi-lagi saya lupa persisnya. Intinya Mama bilang kalo Allah itu selalu melindungi kita.

Ah, alhamdulillah. Rasanya hati saya agak tenang sedikit🙂

Kemudian obrolan ular tangga panjang bukan kepalang pun ditutup dengan cerita seputar mencari kerja.


Mama: Kak,tapi ya mama dengar anak kampus XXX gak ada yang nganggur ya kak?
Tya: Sebenarnya ada aja sih, Ma. Ya itu tadi, kan kita gak tau rezeki. Soalnya senior Tya ada yang masih belum dapat kerjaan, sementara temennya udah. Padahal dari segi IPK, softskill, hardskill, bisa dibilang si Senior ini lebih oke daripada si temennya. Tapi pas dia masukin lamaran bareng temennya, eh dia malah gak lolos sementara temennya lolos ke tahap selanjutnya.
Mama: Oh, iya ya, Kak?
Tya: Iya, Ma.
Mama: Oh mungkin itu kayak yang Mama pernah dari Ust. Yusuf Mansyur. Mama kan beli kasetnya pas beliau ke Duri yang dulu itu. Jadi beliau cerita tentang dua bersaudara, kakak adek.
Si Kakak tipikal yang rajin sekolah n rajin belajar, sedangkan adeknya tipe yang malas, ogah-ogahan, pokoknya kayak gak niat sekolah. Nah tapi setelah mereka berdua lulus, si Kakak malah susah nyari kerja, dan si adeknya malah dicari-cari sama kerjaan.Kenapa kak?
Tya: Kenapa emang, Ma? Gak tau..
Mama: Ternyata ibunya bilang, kalo si Adek ini perhatiaaan kali sama orang tuanya. Beda sama kakaknya. Jadi meskipun dia sekolahnya gak bener, tapi ke orang tua hormat dan perhatian. jadi mungkin karena itu Allah juga sayang sama dia. Kan ridho Allah tergantung dari ridho orang tua, Kak.
Tya: (speechless)
Mama: Ya mungkin kasus senior Kakak juga kayak gitu kali, si temen yang keliatannya biasa aja barangkali sangat perhatian sama orang tuanya. Berbakti, patuh, santun. Mungkin juga karena rajin bersedekah.
Tya: Iya juga ya, Ma.
Mama: Iya, makanya banyak-banyak juga bersedekah..

Fyuhh.
Langsung saya camkan lagi dalam hati.
Saya sudah sering dengar, tapi ketika dihadapkan dengan kehidupan yang sudah sebesar ini, saya kembali tertegun.
Ah, saya akan ingat terus.
Ridho Allah tergantung ridho orangtua.

Obrolan Petang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s