Teknologi: Apa Kabar 10 Tahun Mendatang?

Seperti yang saya sudah pernah singgung sebelumnya, berada di kampus IT seharusnya menjadikan saya sedikit lumayan ngerti tentang teknologi yang ada, terutama di bidang Telekomunikasi.

Lama-kelamaan, saya makin pusing. Nurani mulai tergelitik. Hati mulai terusik. Apa sih ini yang selama ini saya pelajari????

Dan setelah tadi ngobrol-ngobrol sama senior saya, yah bisa dibilang obrolan warkop, kita berdua (dan mungkin banyak lagi yang lainnya), ngerasa ngeri dengan perkembangan yang ada dan bakalan ada.

Nah. Jadi, semua orang yang belajar teknologi komunikasi pasti pada taulah, kalo dunia saat ini sedang menuju era 4G. Lalu apa efeknya?

Menurut senior saya yang kerjanya ngedrive test itu sih, kalo udah 4G ntar optimasi bakal dikerjain sama smart antena yang sesuai namanya, smart, bisa ngontrol dirinya sendiri. Sedangkan kalo 3G, mesti dibutuhin orang-orang yang jago optimasi, yang ngecek-ngecek frekuensi, pancaran antena, dll. Jadi tadinya antena itu bego, lalu perlu ahli. Kemudian besok-besok bakal dibikin antena yang pinter, jadi gak perlu butuh orang banyak lagi buat optimasi, cukup satu doang yang bisa ngontrol banyak antena dari satu tempat. Mungkin kira-kira begitu ya.

SEE?

Ini juga yang bikin saya sedih dan agak sedikit menyesal ambil kuliah jurusan ini. Bukannya sok peduli atau gimana ya. Udah materi kuliahnya susah bener, gak terlalu minat, eh berkemungkinan bisa bikin angka pengangguran meningkat.

Karena inti kuliah IT itu adalah MEMUDAHKAN SISTEM. Itu yang saya tangkap. Seperti yang dianalogikan si senior saya itu, kalo dulu di kereta api dibutuhkan penjual karcis, masinis, dll, maka sekarang cukup dengan bikin sistem yang bisa bikin kereta api ngeluarin karcis sendiri, jalan sendiri, ntar dia berhenti sendiri, dan manusia diperlukan cuma untuk cleaning service dan membuat sistem kayak gitu.

Belum lagi dengan calon TA saya, yang rencananya mau bikin sistem yang bisa identifikasi batuan dari gambarnya. Kalo itu TA jadi dan dikembangkan sama orang-orang ahli, bisa-bisa teman-teman geologi kehilangan lahan garapannya dong. Saya gak mau banget itu terjadi.

Apalagi di Next Generation Network nanti, dimana sentral-sentral telepon yang ada bakal diganti dengan router yang pinter, sehingga gak dibutuhin banyak pekerja lagi. Cukup satu mungkin bisa untuk ngontrol beberapa routing.

Bisa dibilang dalam beberapa tahun mendatang, posisi manusia kalo nggak di ataaaas banget (tukang bikin+ngerancang sistem), ya di bawaaaaah banget (tukang bersih-bersih). Dan tidak ada lagi posisi menengah.

Sedih gak?

Saya sih sedih banget. Dan saya baru sadar akan semua hal ini udah lumayan telat, ketika mulai kenal konspirasi, yahudi, new world order, dan the arrivals. Ketika tau kalo teknologi ini bagaikan permainan yang dikontrol sama orang-orang pinter sesuka hatinya. Bahkan mengubah lifestyle kita.

Bayangkan.
Mungkin pada zamannya anak saya nanti, gak ada lagi yang namanya jalan-jalan keluar, gak ada lagi yang namanya main ke rumah temen, berangkat sekolah, dateng kondangan, main karet, main gundu di luar sampe kotor-kotoran…

Semuanya udah dikerjain sama sistem. Semuanya serba digital. Mungkin juga udah banyak content dan layanan yang disediakan. Kalo mau sekolah, cukup via internet (ini malah udah ada). Ketemu temen, cukup dari social networking (shit!), dateng kondangan?? cukup kirim hologramnya. Liat aja deh sekarang, cuma berapa persen anak Indonesia yang masih main patok lele? Galasin? Congklak? Ludo? Halma? Gundu?

Bahkan ludo, halma, dan game-game manual lainnya udah banyak yang dijadikan game digital. Semuanya beralih ke Xbox, Nintendo, PlayStation. Benci sekali saya sama kenyataan yang ini.

Ah,
Saat itu mungkin jarak semakin tak berarti.
Dan kita mungkin akan semakin tidak peduli.

Tapi masih besar harapan saya, mengingat manusia punya titik jenuh. Dan saya ngarep semoga titik jenuh manusia akan teknologi ini segera muncul. Masa dimana orang-orang jenuh sama facebook (ini udah mulai), twitter, BB nya yang tiap bentar ngingetin kerjaan atau updatean (alah!), masa dimana orang-orang malessss berhadapan dengan layar monitor.

Tiba-tiba semua orang ingin BREAK dan merindukan masa lalu.
Tiba-tiba semua orang pengen nostalgia kirim surat cinta pake Pos dan bukan email dan bukan juga SMS.
Tiba-tiba semua orang lebih senang silaturahmi, bertamu, mengunjungi kerabatnya di rumah dan tidak sekedar menyapa di Facebook.
Tiba-tiba semua orang muak dengn push email dan mencampakkan gadget-gadgetnya.
Tiba-tiba semua orang berkumpul di warung kopi dan BERCENGKRAMA, dan bukan sibuk sendiri dengan laptopnya (lalu buka facebook atau malah chatting dengan orang lain, sementara temen di sebelahnya dicuekin karena punya kesibukan yang sama)
Tiba-tiba anak-anak mulai bosan dengan joystick gamenya dan lebih senang main petak umpet di luar sampe keringetan, sampe sore, sampe mereka pulang ke rumah setelah dipanggil ibunya

:’)

Tiba-tiba semua orang merasa kangen. Kangen yang benar-benar kangen karena lama tak berjumpa, lama tak bercerita.

Di masa itu, jarak yang lebih terasa, akan membuat kita lebih menyayangi dan merindukan orang lain. Juga lebih menghargai kehadirannya dalam hidup kita sebagai bagian, dan bukan cuma pelengkap.

Saya sangat berharap masa itu tiba…
Ketika teknologi berfungsi sesuai kodratnya..

Saya yakin Samuel Morse dan Alexander Graham Bell menciptakan alat telekomunikasi, pasti untuk menjadikan yang jauh menjadi dekat, bukan sebaliknya.

Teknologi: Apa Kabar 10 Tahun Mendatang?

One thought on “Teknologi: Apa Kabar 10 Tahun Mendatang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s