Commitment: No Comment

Malam ini sepertinya akan berujung pagi lagi. Saya dibikin terjaga gara-gara sebuah ide tentang komitmen. Sekali lagi, KOMITMEN. Lebarkan pandangan, luaskan pikiran, bayangkan KOMITMEN suatu hal yang tidak cuma melekat erat dengan ‘pernikahan’, tapi juga bagian keseharian kita.

Saya akhirnya terpaksa mengakui, setelah diadili dan diinterogasi oleh diri saya sendiri, betapa saya ternyata agak alergi sama hal yang satu ini. Oke. Fakta baru yang saya temukan dalam diri saya, saya takut sama komitmen. Lagi-lagi, komitmen dalam artian luas.

Posisi yang sulit. Membingungkan. Di antara hati dan logika. Antara keinginan, impian, dan realita. REALITA. Itu yang juga gak kalah berat. Keharusan untuk menghadapi realita membuat idealisme pupus perlahan. Ah, betapa sulitnya menjadi orang yang realistis, padahal punya cita-cita tinggi. Seolah-olah antara keinginan, impian, mimpi, harapan, semua itu bertentangan dengan realita yang ada.

Lalu kemudian muncul si komitmen ini, seolah kita gak cukup pusing dengan segala kerumitan yang ada sebelumnya.

Omongan saya mulai ngawur gak ya?

Coba kita bahas komitmen dalam konteks percintaan. Uyeah. (–“)
Saya punya teman-teman cowok yang punya pandangan berbeda dalam menjalin suatu komitmen, misalnya pernikahan.

Teman saya yang namanya A cerita, pokoknya dia mau nikah sama cewek yang dia sayang kalo dia rasa kehidupannya udah mulai mapan. Gak masalah umur berapa, asal gak telat-telat amat. Soalnya dia gak tega kalo nikahin cewek itu, sementara kehidupannya sendiri bisa dibilang masih “nol”. Intinya dia gak mau liat cewek yang dia sayang itu hidupnya “sengsara” sama dia. Dimana “sengsara” di sini merupakan variabel yang relatif, tergantung tiap orang definisiinnya gimana.

Sementara si B, pemikirannya hampir sama kayak papa saya. Hehe. Menurut dia, nikah makin cepet itu makin bagus (kalo udah ada calonnya). Gak masalah mau kerjaannya masih gak mapanlah, masih kurang, toh yang namanya rezeki itu udah ada yang ngatur. Malahan dia pengen punya pendamping yang mau diajak susah sama-sama, memulai kehidupan dari nol bersama-sama. Yes, kedengarannya so sweet, tapi untuk zaman sekarang kok agak sulit ya buat diterapin? CMIIW.

Sekarang saya yang di posisi ceweknya deh yang bingung.
Di satu sisi, saya (semua cewek deh kayaknya), pengenlah segera menyempurnakan setengah agama. Tapi perihal waktunya ini yang bikin puyeng. Banyak yang harus dipertimbangkan. Soalnya hal-hal serius seperti ini, yang juga amat sangat sakral, tentunya mesti dibikin matang dong. Ya gak? Ngawur gak? Menurut saya malah makin cepat belum tentu makin bagus. YA GAK SIH? OH. Belum lagi soal impian-impian yang belum terealisasi. We need time.

Ah, saya udah mulai males nih. Udah ah. Lain kali bahasnya kalo lagi kepala dingin aja.

Moral of the story: Seperti yang pernah saya tulis di notes account facebook saya:

Karena konsisten dan memegang komitmen itu sulit, maka JANGAN banyak bicara deh. (Saturday, May 16, 2009 at 10:06am )

Itu terinspirasi dari kita-kita dan mereka-mereka yang bacrit, banyak janji bakal begini begitu, gak taunya ujung-ujungnya cuma NOL BESAR. Salah satunya mungkin juga saya pernah seperti itu.

Ah, bener-bener deh kalo udah menyangkut komitmen-komitmen saya lebih milih ngacir. I really really have no idea about it. I don’t know and I don’t care.

I’m not drunk. I’m free.” (from the movie LIFE OR SOMETHING LIKE IT)

Commitment: No Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s